Masa kecil adalah masa dimana setiap anak-anak mencari jati dirinya, masa dimana anak-anak ingin menjadi seperti idolanya. Memiliki satu idola rasanya tak mungkin dirasakan pada masa-masa ini. Bagaimana tidak, setiap melihat sosok yang hebat atau bahkan sosok yang menjadi pujaan anak-anak lain, mereka akan ikut menjadikannya sebagai idolanya.
Namun berbeda denganku, aku tak sama seperti anak-anak lainnya. Masa kecilku tidak dihantui oleh sosok-sosok yang bisa dijadikan sebagai idola. Masa kecilku adalah masa dimana aku selalu bermain dan tak ingin mengalah.
Rasa tak ingin mengalah itulah yang menjadikanku bagaikan preman di tempat aku tinggal. Tapi rasa tidak ingin mengalahku bukanlah karena aku selalu ingin menang sendiri. Hal yang menjadikanku sangat marah dan tak ingin mengalah adalah ketika aku disalahkan akibat perbuatan yang tidak pernah kuperbuat.
![]() |
| Preman Ilustrasi |
Ya, dalam masa kecilku hal ini sering kali terjadi. Terkadang aku heran, kenapa banyak orang tua yang memiliki akal dan pengalaman lebih lama dari hidupku bisa seenaknya menyalahkan aku atas ketidaktahuanku. Ketika aku bermain, tak jarang banyak anak-anak lain seumuranku mengikutiku untuk bermain. Tentu aku tidak akan marah hanya karena mereka ingin bermain bersama denganku.
Hal ini bahkan menambah kegembiraan dan mengubah suasana menjadi ramai. Yang membuatku kesal adalah waktu dimana mereka menyalahiku, bahkan mengeroyok diriku ketika mereka bermain bersama denganku. Hal ini mungkin terlihat wajar, jika perkelahian yang kualami dikarenakan saling ejek nama orang tua atau bercanda yang kurang menyenangkan.
Tetapi, ini sungguh berbeda dari kebiasaan anak-anak semasaku kecil. Mereka selalu menyalahkan, bahkan selalu ingin mengeroyokku. Mungkin karena aku memang bukan kelahiran asli disana. Tapi aku tetap berhak untuk bermain dengan gembira kan? Seharusnya!
Orang tua, tepatnya dia adalah ibuku. Sosok wanita yang memang asli kelahiran sumatera utara, ini juga yang seharusnya menjadikanku diterima ditempat ini dan bermain bersama mereka layaknya keluarga.
Seringkali yang aku alami adalah ketidak adilan yang nyata. Dimana aku dikucilkan, dimana semua anak bersatu untuk menjauhiku. Dan hal yang paling mengherankan buatku adalah ketika orang tua mereka juga menyadari dan bahkan mereka pulalah yang mengotori fikiran anak-anak seumuranku untuk menjauhiku dan menyalahiku.
Suatu ketika kami bermain bersama, aku pernah bermain kelereng atau guli bahasa disini. Aku bermain bersama anak--anak yang lainnya. Awal permainan kami lalui dengan biasa, bahkan semua berjalan adil dan sangat mengasyikkan walupun aku selalu kalah.
Ketika dalam suatu babak permainan baru, aku berhasil memenangkan permainan kelereng. Aku sangat bahagia karena dalam beberapa babak , satu babak ini adalah ababk terbaik kala itu. Ada seorang anak yang tidak senang karena aku berhasil memenangkan babak itu dan tentunya dia kalah saat itu.
Dia mulai mengejekku dengan ejekan lawas, yaitu memanggil nama orang tua seenaknya. Beberapa kali aku membiarkan dan menganggap mungkin itu kekesalannya karena kalah. Tetapi dalam beberapa babak selanjutnya mulailah dia mengajak yang lain untuk mengejekku meskipun sambil bermain.
Aku mulai biasa, namun hal ini membuatnya semakin panas karena aku menang untuk kedua kalinya. Sedangkan dia kalah untuk kesekian kalinya :) hiihihihiii. Nah, mulai dari kemenangan keduaku ini. Dia yang saat itu kalah mulai menendang kelereng yang aku menangkan. Aku marah dan menyuruhnya untuk mengambilnya dan memberikannya padaku.
Bukannya mengambil dan memberikannya padaku, justru dia malah mencaciku dengan bahasa kasar. Aku mulai marah karena yang salah saat itu bukanlah aku melainkan dia sendiri. Tak terima, aku lantas menyuruhkan untuk kedua kalinya mengambil kelereng yang iya tendang tadi. Nah kali ini dia pergi mengambilnya, tetapi dia memberikannya dengan cara melempar ke arahku, beberapa mengenai tubuhku dan ada yang mengenai kepalaku. Dia melemparkan sembari berlari pulang kearah rumahnya.
Nah disini adalah puncaknya, aku yang tak terima karena diperlakukan tidak adil saat itu segera mengejar dan menangkapnya. Akhirnya kami berkelahi, dan dimenangkan olehku.
Wajar saja, disini aku lumayan cepat dalam hal lari dan fisikku lebih kuat dari anak-anak seumuranku. Bahkan remaja-remaja disana juga masih berfikir dua kali jika mengajakku berkelahi. Aku lantas memukul kepala dan punggungnya.
Diapun menangis dan melaporkannya kepada orang tuanya bahwa aku yang telah memukulnya. Namanya juga orang tua, wajar jika marah ketika anaknya dipukul. Tapi kesalah besar disini adalah ketika orang tuanya hanya mendengarkan bahwa anaknya dipukul olehku dan tidak bertanya kenapa dia bisa dipukul. (Wajar, disini yang salah dan mengadu kepada orang tua malah dimarahi adalah aku sendiri, karena orang tuaku berprinsip jika salah maka akan ditambah. Tapi jika benar maka orang tuaku akan bertanya terlebih dahulu pada pelaku yang menyalahiku)
Berbeda jauh bukan!
Orang tuanya datang bersama anaknya dan menunjuk aku yang hendak bergegas pulang karena kala itu sudah sore. Dia datang dan langsung memarahiku. Langsung saja, aku berbalik marah dan menyalahkan anaknya sembari menjelaskan dan memberitahukan kesalahan anaknya.
Orang tuanya tetap memarahiku dan tidak mau tau apa yang diperbuat anaknya sebelum itu. Aku mengucapkan kata-kata kotor dan mengarahkannya pada anaknya sembari menarik dan mengajaknya berkelahi lagi karena aku tidak mau disalahkan karena kesalahan yang tidak aku perbuat.
Wajar saja hal ini menjadikanku seperti preman dikalangan anak-anak lainnya karena hanya aku yang berani melawan karena benar! Anak-anak lain akan diam bahkan menangis ketika disalahkan atas kebenaran yang ia lakukan. Hal ini sering terjadi. Bahkan aku tak segan untuk melawan orang tua mereka yang ingin memukulku karena bagiku, "Diam adalah disaat aku mendengarkan yang baik dan Diam adalah ketika aku salah dan dinasehati) berbeda dengan yang terjadi saat itu.
Orang tua mereka menganggap bahwa anak mereka benar dan aku salah. Mereka benar dan aku semakin salah karena melawan orang tua ?? Hmm, fikiran mereka patut dipertanyakan bahkan sampai saat ini.
Itu juga yang menyebabkan aku semakin dijauhi karena kompor orang tua yang sok benar dan tidak mau anaknya disalahkan. Walaupun beberapa diantara mereka masih ada yang bermain denganku karena tau bahwa aku tidak salah sepenuhnya.
Catatan :
Sebelumnya aku tidak menganggap sepenuhnya bahwa aku benar, karena kesalahanku membalas sesuatu yang seharusnya aku memaafkannya. Aku berharap kejadian ini tidak terulang pada anak-anak saat ini.
Dan aku menganjurkan pada orang tua yang membaca saat ini agar bertanya terlebih dahulu kesalahan anakmu dan apa yang terjadi sebenarnya dari kedua belah pihak ketika anakmu dan anak lainnya berkelahi. Jangan menyalahkan satu pihak dan jangan mendengarkan kejelasan hanya dari satu pihak sebelum mendengarkan penjelasan lainnya.
Karena kebohongan terbesar dapat terjadi karena tidak ada orang lain yang mengetahui kebenarannya. Pesan saya, jadilah pendengar yang sebenar-benarnya pendengar sebelum berkomentar dan melakukan sebuah reaksi yang nyata!!!
Salam santun!
#FERDIANS

Komentar
Posting Komentar