Seperti diketahui banyak orang bahwa sapu adalah sebuah alat yang digunakan untuk membersihkan kotoran dilantai maupun di pelataran. Terdiri dari dua macan yaitu sapu lidi dan sapu ijuk yang mana keduanya sama-sama berfungsi sebagai alat pembersih.
Penggunaan sapu yang akan kuceritakan ini sama hanya saja objek dan waktunya yang sedikit membedakan dari kegunaan aslinya.
Seingatku kejadian itu terjadi ketika hari raya, dimana seluruh keluarga berkumpul dirumah nenek yang kami tempati. Maklumlah selain Ibuku adalah anak tertua, rumah tersebut juga masih berstatus milik bersama.
Seperti keluarga lainnya, setelah selesai menunaikan ibadah Sholat IED kami berkumpul dirumah dan makan bersama. Setelah selesai makan bersama kegiatan keluarga kami selanjutnya adalah meminta maaf dan saling memaafkan kesalahan masing-masing.
Sehabis saling meminta maaf, semuanya berbincang mulai dari perbincangan pekerjaan, pendidikan anak dan masalah yang dihadapi. Itu semua kegiatan para orang dewasa tepatnya para orang tua kami.
Anak-anak sepertiku dan para sepupuku memiliki kegiatan tersendiri seperti kebanyakan anak lain yaitu bermain bersama. Bagi laki-laki biasanya kejar-kejaran, atau permainan koka-kola. Sedangkan para wanita kebanyakan bermain masak-masakan atau pasar-pasaran.
Saat aku sedang asyik bermain bersama para sepupu, aku mendengar tangisan adik perempuanku. Iya menangis karena ejekan dari tetanggaku. Aku yang tak terima saat itu karena tau adikku tidak bersalah langsung marah dan mengajak berkelahi mereka.
![]() |
| Ilustrasi |
Saling ejekpun terjadi dan bahkan aku hampir memukul mereka yang mengejek dan membuat adikku menangis. Kalu tidak salah awal mulanya adalah adikku bermain batang dari daun pepaya. Adikku bermain di dekat pagar yang terbuat dari tanaman pagar.
Seketika anak tetanggan yang melihat adikku menarik daunnya, mematahkan dan membuangnya. Itulah sebab mengapa aku marah. Karena adikku bermain tidak dihalamannya melainkan dihalaman sendiri tetapi di ganggu seperti itu.
Mereka berdua yang berkelahi denganku menangis dan mengadu pada orang tuanya. Ibuku yang mendengar kejadian itu langsung datang memarahiku sembari membawa sapu ijuk ditangannya.
Plakkk plak plak seingatku tiga kali pukulan ibuku lancarkan ke lututku dan mengenai tanganu saat mencoba menangkisnya. Pukulan terakhir membuat batang sapunya patah menjadi dua. Kemudian dilanjutkan dicubit berulang kali.
Kalian bisa coba merasakannya sendiri seperti apa rasanya saat itu terjadi :) hihihiihiiii seram mengingatnya. Aku yang merasa tidak bersalah ngotot menjawab bahwa mereka yang membuat si adik menangis dan menjelaskan dengan rinci. Namun seperti yang aku jelaskan pada tulisanku sebelumnya "Preman masa kecil" bahwa orang tuaku selalu menyalahkan anaknya terlebih dahulu.
Dan saat ini aku membenarkan tindakan tersebut, karena jika kita tidak membalas mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Tetapi bagaimanapun sebagai seorang kakak aku harus bisa menjaga adikku.
Itu kenapa aku tetap tidak trima kala itu pada ibuku yang terus memarahiku walaupun aku sudah menjelaskan kejadian sebenarnya secara rinci.
Akhirnya aku menerima dan berakhir dengan kata "Masuk kedalam dan jangan buat masalah lagi". Tapi aku bersyukur kala itu terjadi, keadaan rumah masih ramai dengan keluarga. Jika tidak Bapakku akan lebih marah ketika tahu aku bertengkar dengan anak tetangga.
Saat itu bapak sambil tertawa dengan paman-paman dan hanya bertanya "kenapa si Fittra, adiknya di pukul ya?" kepada ibuku. Ibuku menjawab bertengkar dengan anak tetangga.
Ya, kejadian setelah itu aku tidak terlalu ingat. Jadi hanya sampai disini saja kisah yang dapat aku ceritakan dan sekedar berbagi pengalaman. Baik dan buruknya kalian bisa menyimpulkan. Siapa yang benar dan siapa yang salah kalian sudah dapat membedakannya sendiri.
Sapu yang digunakan Ibu untuk memukulku kini telah berhasil membersihkan sifat-sifat buruk yang ada padaku. Andai aku tidak pernah dipukul waktu itu, mungkin aku tidak tahu bagaimana rasanya tubuh merasakan sakit jika aku memukulkannya pada orang lain....
Sapu yang digunakan Ibu untuk memukulku kini telah berhasil membersihkan sifat-sifat buruk yang ada padaku. Andai aku tidak pernah dipukul waktu itu, mungkin aku tidak tahu bagaimana rasanya tubuh merasakan sakit jika aku memukulkannya pada orang lain....
Catatan :
- Sekeras apapun perlakuan orang tua padamu ketika kamu salah, tindakan itu akan berpengaruh besar bagimu dimasa depan.
- Jadikanlah setiap pelajaran yang diajarkan orng tuamu pada masa kecil menjadi bekalmu dewasa nanti. Tiada orang tua yang ingin anaknya menjadi sepertinya.
- Seburuk apapun orang tuamu dia tetaplah orang tuamu. Sejahat apapun orang tuamu diluar sana, ia akan berusaha menjadi yang terbaik didepan anak dan istrinya. Tentu dengan caranya masing-masing.
- Marahnya orang tua hanya sebatas waktu itu, setelah itu kamu akan mendapatkan kasih sayang yang lebih.
- Sayangilah keluargamu seperti kamu menyayangi dirimu sendiri!!!

Komentar
Posting Komentar